Showing posts with label poem. Show all posts
Showing posts with label poem. Show all posts

Friday, February 16, 2007

my blue


aku mengajari kelingkingku mengenal satu rasa sakit.
ketika ujung jariku mengenalmu. aku tertawa, pias,
adakah segala telah membenda seperti katamu?
kembali atau tak hanyalah soal waktu
kala tak mengikat katamu,
kala juga tak merampungkan lukaku, sahutku
kala tak ada bagiku, ucapmu
jadi 'kapan' kau nafikan
hanya deru angin tetap menerjang

17.02.07.01:20 pm

Sunday, January 21, 2007

bosan

aku sedang bosan
bosan sedang mengurungku
tak ada yang membelitku selain bosan
bosan ini
bosan itu
lebih baik aku
melabuhmu saja
dalam bosanku

22 januari 2007

Thursday, January 04, 2007

POEMS 4 U

Mari Bicara Tentang Rasa

(Kepada Pradi)

mari bicara tentang rasa
Pada apapun, siapapun dan bagaimanapun
untuk menyadari rasa dibutuhkan
mata hati kita
Mari bicara tentang rasaku
yang mengalir selalu dari bilik rasa
milikku
Mari bicara tentang rasa, Pra
aku tidak ingin menyimpannya
Aku tidak ingin membiarkan
hatiku lelah menahannya
Mari bicara tentang rasa, Pra
Rasaku
yang kumiliki dalam warna yang berbeda
kuberikan warna putih, hijau dan biru
mungkin coklat atau kelabu
Mari bicara tentang rasa yang
berwarna
Ada warna rasa yang sama
kubagi untuk orang yang berbeda
Aku bagi warna putih
Aku bagi warna merah
Aku bagi warna kuning
mungkin juga kubagi warna jingga
Mari bicara tentang rasa
Apakah menurutmu aku mengumbar rasa?
hanya karena aku sayang
pada orang-orang lain yang berbeda?
apakah yang membuat aku yakin rasaku
pada orang-orang itu tidak akan
berubah warna?
Bertanyalah, Pra.
biarkan aku menjawabnya
Mari bicara tentang rasa
tentang rasa yang mengurungku
sekian lama
Mari bicara tentang rasa
Tentang rasaku pada dunia!
Salam

26 Mei 1999

Tuesday, January 02, 2007

next POEM

seperempat abad lalu kukirim namaku
ke jantungmu
tapi hanya serupa angin masa lalu
di sini aku
sekarang menghitung jari
tanpa tahu kapan
kau kembali

15 agt 2006




kau


engkaukah itu?
berjuta waktu aku habiskan untuk
menemukanmu

engkaukah itu?
bahkan kala menisik sendiri benang hari
dan mentari masih mengeja derap kaki
engkau mengabut

engkaukah itu,
berdiri di simpang jalan
panjang
sunyi,
dan menghilang

14 dec 2006

Tuesday, November 07, 2006

KIRIMAN TERAKHIR

KIRIMAN TERAKHIR”

Kemarin aku terima sebuah wesel,
sedikit uang dan di kolom berita
kutemukan:
aku sudah mati.


Beberapa waktu lalu aku pernah melempar sajak ini
dalam sebuah “forum” kecil, hanya para mahasiswa sekolah
profesi tahun pertama
yang kebetulan
duduk-duduk bersama menunggu waktu pulang

dan interpretasi mereka sungguh menakjubkan
mulai dari
“dia” mengirim wesel kemudian bunuh diri
“dia” berwasiat mengirimkan wesel untuk “aku”
ketika akan meninggal dan sebagainya

ketika itu aku takjub karena tidak
mengira puisi yang aku buat asal jadi
(sebenarnya bukan sungguh-sungguh asal jadi karena
terus terang aku suka puisi itu, meski tidak ada sebuah mediapun
yang bersedia memuatnya!)
itu,
ternyata mendapat tanggapan yang sedemikian “heboh”
bahkan ruang tunggu mendadak ramai tak lagi sepi karena
mereka saling berebutan menjawab

ketika di univ, teman-teman kuliahku yang mengetahui
bagaimana sastra (Indonesia, khususnya) diajarkan di sekolah
berkata saat SMA, para pelajar itu hanya dikenalkan pada karya sastra
belum (baca: bukan) pada interpretasinya.

melihat pada pengalamanku, mengapa tidak diteruskan pada
interpretasi jika mereka (yang ‘baru’ lulus es-em-a) sedemikian
merasa tertarik menginterprtasi ketika kesempatan itu ada
Tentu saja masih dengan gaya mereka….

Tuesday, August 22, 2006

puisi2 pendek

Diri



Keakuanku,

adalah seribu tanya

yang terucap lewat bibir-bibir mungil

di antara taburan senyum

Keakuanku,

adalah jiwa-jiwa terkapar

aku, tahu, ada

dan akan datang

sekarang, besok atau

kapanpun.

21 juni 1993

Aku Bertanya
Sajak Fikri Aya
Kakiku bertanya di mana letak keadilan
telunjukku menjawab,
ada di sana
Pergi dan carilah
dia menuding langit
Tanganku bertanya apa itu cinta
telunjukku menunjuk hati,
bertanyalah pada-nya
mengapa ia masih sering
membuat perbedaan berganti-ganti
Mataku bertanya
apa yang diperbuat manusia
dengan akal dan
hatinya
Tapi bibirku hanya
menjawab tak tahu apa-apa
Lidahku bertanya mengapa
cita - rasa kami berbeda
kepalaku menggeleng lupa
Rasaku bertanya,
mengapa aku hanya boleh singgah
di tempat yang jauh dari
wangi parfum kota
Hidungku menjawab karena.
Hatiku bertanya mengapa tempatku
jauh dari wangi sorga
Aku menjawab,
karena
aku juga hanya
mencium bau amis dan anyir darah
atau dentum senjata yang hanya
membuat semuanya bertambah
parah!
8 juli 1995

Kesunyian
Sajak Aya Fikri
aku dijemput kereta
dengan masinis seekor kuda
dan penumpang yang langka
tidak ada yang kukenal
tapi aku merasa, ada
ketika
semua sibuk bercengkerama
aku dijemput kereta
dengan masinis se-ekor kera
sementara penumpangnya
hanya seorang naga
aku maju mencoba
oh, dia tak
acuh saja!
6 juli 1995


SELA
Seekor burung dengan sayap berkibar
menukik di depanku
aku tersenyum
melihat kakinya yang patah
8 july 1995


Hari Semakin Menua
Sajak Aya Fikri
Sebuah gigi rontok
hari semakin menua
Sebuah dinding roboh
hari semakin menua
Gigi hari runtuh
hari semakin menua
juli 1995

(Catatan: puisi-puisi ini pernah dimuat di cybersastra.net pada 2002)